AHOK, "man of the year 2016"

loading...
Jika saya pemilik media massa, yang setiap tahun menyelenggarakan pemilihan “Man of The Year” (Tokoh Nasional) 2016, maka saya tak ragu mengatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) layak mendapat sebutan “Man of The Year 2016.”

Secara positif maupun negatif, dialah tokoh yang paling banyak dibahas dan mendapat perhatian media, baik media konvensional (suratkabar, majalah, televisi), maupun di media daring dan media sipil. Dia banyak dipuji, tetapi juga banyak dicaci maki. Dia dikagumi oleh satu kalangan, tetapi juga dihinakan oleh kalangan yang lain. Banyak perkataan dan perbuatannya yang mengundang kontroversi, serta memancing munculnya pro-kontra di media.

Bagi para pendukungnya, Ahok dipandang sebagai Gubernur DKI yang ucapannya ceplas-ceplos, pedas, dan terasa kasar, tetapi berprestasi konkret. Ahok menciptakan administrasi pemerintahan yang lebih bersih, lebih efektif kerjanya, dan lebih efisien. Sungai di Jakarta yang semula kotor diubah menjadi bersih dan asri. Kompleks lokalisasi pun dibubarkan dan lingkungannya ditata ulang.

Sedangkan bagi para lawan politiknya, Ahok dianggap sebagai antek kepentingan asing (China), konglomerat, khususnya dalam kontroversi reklamasi pulau-pulau di pantai utara Jakarta. Juga dituding sebagai pelaku korupsi dalam kasus pembelian RS Sumber Waras, dan bus-bus Trans Jakarta. Ketika kasus-kasus itu tidak bergulir ke pengadilan, Ahok dituding dilindungi oleh penguasa.

Yang paling berat dari semuanya adalah tuduhan penistaan agama, terkait pernyataan Ahok ketika melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu. Tuduhan penistaan agama, yang kemudian didukung oleh tekanan aksi massa secara masif di Monas, berhasil menggiring kasus ini sehingga masuk ke pengadilan.

Isu penistaan agama ini juga berhasil menggerus suara dukungan ke Ahok-Djarot, sehingga Ahok-Djarot gagal memenangkan pilkada DKI dalam satu putaran. Tetapi bahwa Ahok-Djarot masih bisa meraih suara sekitar 41 persen dalam pilkada putaran pertama menunjukkan, Ahok ternyata juga punya daya sintas atau ketahanan lumayan. Angka 41 persen itu masih yang tertinggi, meski hanya beda tipis dengan Anies-Sandi yang memperoleh sekitar 39 persen.

Ada pertanyaan, mengapa yang jadi Man of The Year 2016 tingkat nasional bukan Muhammad Rizieq Shihab (Habib Rizieq), yang jadi ikon gerakan “Aksi Bela Islam” karena berhasil menggalang massa yang begitu besar untuk menekan pemerintah dalam kasus Ahok?

Jawabannya, karena Habib Rizieq bisa muncul mencuat hanyalah sebagai reaksi atas “faktor Ahok.” Habib Rizieq sudah lama menjadi pemimpn Front Pembela Islam (FPI),namun karena proporsi jumlah massa FPI yang kecil –jauh dibandingkan ormas Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah – ia selama ini hanya menjadi “pemain pinggiran.”

Secara tak terduga, momen puncak peran Habib Rizieq ironisnya justru terjadi berkat “jasa Ahok.” Kalau tidak ada Ahok, Habib Rizieq akan sulit mendapatkan momen untuk mencuat di tingkat nasional.

Bahkan untuk mempertahankan momen gerakan di tahun 2017, “faktor Ahok” masih terus dibutuhkan oleh FPI dan Habib Rizieq. Oleh karena itulah, suka atau tak suka, Man of TheYear saya putuskan jatuh ke tangan Ahok, baik dalam arti positif maupun negatif. ***
loading...

0 Response to "AHOK, "man of the year 2016""

Posting Komentar

close
loading...